Pendahuluan

Saya mengharapkan memiliki kebun hidroponik yang tidak terlalu besar saat ini, dengan memanfaatkan beberapa meter persegi halaman rumah saya (total sebesar 25m2 + 20m2 + 20m2 = 65m2), sebagai awal saya terjun ke dunia pangan dimana setiap manusia harus mengkonsumsi sayuran demi kesehatan badannya. Pelan namun pasti, saya mencoba mempelajari Hidroponik sejak bulan Juni 2019 lalu dan memberikan porsi waktu lebih besar untuk kegiatan ini. Saya menyisihkan sedikit demi sedikit setiap pendapatan saya sebagai seorang freelancer (pekerja lepas) web designer – yang saat ini bisa dibilang jasa saya sudah kurang laku setelah kurang lebih 20 tahun menggeluti bidang ini, demi memenuhi kebutuhan alat dan bahan pembuatan hidroponik.

Pencapaian Sementara

Dengan kecepatan yang sangat pelan, saat ini saya sudah memiliki bor beserta mata bornya, sebuah instalasi Hidroponik sepanjang 4 x 1 meter yang mampu menampung 126 lubang tanam, sebuah instalasi meja bibit usia remaja sederhana dari bambu dan reng baja ringan, dan sebuah sistem Hidroponik NFT kecil yang menampung 75 lubang tanam. Keseluruhan instalasi ini saya kerjakan sendiri bersama istri. Selain yang saya sebutkan diatas, saya juga sudah berhasil memiliki beberapa perlengkapan seperti TDS tool yang berguna untuk mengukur kepekatan cairan hidroponik, 3 buah pompa akuarium dengan daya sembur 2,5 meter, 3 buah container untuk cairan hidroponik, 7 batang pipa 4 meter yang terpasang pada instalasi 1, 8 batang talang air yang dimodifikasi sendiri guna keperluan instalasi Hidroponik NFT, dan 25 batang gully (talang) trapesium 2 meteran, yang saya harapkan tadi. Keseluruhan item tersebut terpasang,  beroperasi, dan menghasilkan hasil panen yang masih skala mikro banget, kecuali 25 batang gully trapesium yang memang saya persiapkan untuk instalasi yang lebih besar.

Pokok Permasalahan

Banyak aktifitas saya dalam berhidroponik yang saya dokumentasikan dan saya upload di channel Youtube saya di https://www.youtube.com/setiawanap, dimana saya berharap mendapatkan dana dari pembayaran google adsense. Ternyata pendapatan google adsense bukanlah hal yang mudah. Sekedar informasi, channel SetiawanAP yang saya kelola saat ini sudah memiliki 5900+ subscribers. Dimana pendapatannya masih terlalu kecil jika dibandingnya dengan harga 1 batang baja ringan kanal C yang berharga 80 ribu (harga ini yang saya dapatkan di toko material sekitar sini). Hasil toko online kami di Tokopedia pun cukup berat untuk mengimbangi harga material yang dibutuhkan. Maka berangkat dari pendapatan adsense yang sangat kecil dan keuntungan toko online ini, saya berpikir apakah Crowdfunding (Penggalangan Dana) bisa bekerja pada kasus saya ini, karena saat ini metode Crowdfunding mulai ngetrend di Indonesia.

Kalau menurut saya, Crowdfunding ini sifatnya simbios mutualisme tidak langsung, sifatnya hanya berbagi. Sharing. Kegembiraan. Menebar kebaikan. Ngga ada barter. Ngga ada pengembalian dana, karena ini bukan platform hutang. Dari sisi saya pun, apa yang saya dapatkan adalah semangat. Nominal. Persiapan dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Ketahanan Pangan. Pertanian. Ngga ada sesuatu yang digital. Yang ngga bisa disentuh. Yang saya hasilkan nanti bukan hanya bisa disentuh, tapi dimasak, dimakan sendiri maupun bersama keluarga, dan memberikan kesehatan bagi setiap individu yang mengkonsumsinya. Bagi Indonesia.

Harapan

Saya ingin memulai mencoba. Dan dimulai dari sini. Situs https://www.setiawanap.com, melakukan penggalangan dana untuk pengembangan kebun hidroponik SAP Garden Hidroponik, yang berlokasi di Purwokerto. Berapapun besarannya, pasti akan sangat membantu saya dalam mewujudkan kebun ini. Yang pasti, apapun yang saya kerjakan dalam pembuatan kebun ini, saya selalu mengusahakan dokumentasinya dalam bentuk video dan foto yang kemudian diupload ke (terutama) Youtube, Facebook dan Instagram. Tentu saja teman-teman sebagai donatur tidak bisa berharap banyak dengan apa yang saya hasilkan nanti, karena saya hanya menghasilkan sayuran. Sayuran segar. Bukan HP, bukan emas. Namun demikian, apa yang saya hasilkan nanti, bisa memenuhi kebutuhan sayuran pada beberapa titik yang memerlukannya.

Saya juga menyertakan foto beberapa bon pembelanjaan alat dan bahan hasil usaha kami sendiri, sehingga teman-teman memiliki sedikit gambaran harga bahan-bahan yang kami perlukan. Saya sengaja membuka crowdfunding ini setelah saya berhasil mengerti sedikit ilmu hidroponik, melakukan percobaan-percobaan, melakukan perawatan dan memonitor siklus hidup sayuran ini, sampai dengan keberhasilan kami dalam 3 kali panen dan menjualnya kepada konsumen.

Bagi temen-temen yang iseng ataupun serius pingin jadi donatur, saya akan dokumentasikan nama, besaran nominalnya dan nomor kontak yang tersedia. Saya memikirkan akan memberikan sebuah souvenir bagi setiap donatur, mungkin kaos, topi, atau gantungan kunci. Saya sebenarnya juga ingin mengirimkan sayuran segar, namun tentu saja kurang bijak jika saya kirimkan sayuran segar kepada donatur yang tinggal jauh dari kebun kami ini 🙂

Untuk besaran nominalnya, bisa dimulai dari Rp. 10,000, dan maksimal Rp. 150,000. Ngga perlu lebih dari itu, karena saya ngga mau memberatkan para donatur, juga ngga mau mengendorkan perjuangan saya. Setiap donatur bisa mengirimkan donasinya melalui bank BCA KCU Purwokerto, atas nama:

  1. Paulus Agus Setiawan: 0461 787 249 (saya sendiri), atau
  2. Theresia Cindi Puspitasari: 3580 551 369 (istri)

Crowdfunding ini saya jadwalkan berakhir pada 31 Desember 2019.